Rabu, 09 Januari 2013

ANALISIS SEMIOTIK PUISI “API SEMANGAT” Karya : Elkacen Haryobi

-->
ANALISIS SEMIOTIK PUISI “API SEMANGAT”
Karya : Elkacen Haryobi

API SEMANGAT

Langkah tertatih-tatih meniti harapan
Keringat jiwa membasahi bara rindu
Jerit tanggis pahlawan rakyat
Yang berdiri diporos depan
Kelana
            Dari
                        Nanah luka
                                    Hambar nikmat
Nyali suci indonesiaku
                        Meraung jauh kepenjuru
Indonesiaku dimimpi
            Indonesiaku dilanggit
Tergetar hatiku
Mencari arti dari sebuah bentuk kehidupan
Dan disudut ruang yang begitu sempit
Membahana lagu daya juang
Perjuangan sampai-sampai
            puncak gunung bibir
omong saja apa yang perlu
sebaris potong tahanan listrik
kontak satu huruf O ataukah A
OA  suara kerbau yang dicocor hidungnya
Karena belang
Buka selimutmu yang angkuh bersatu ataukah musnah
Sekaligus
Atau jejak
Rapikan barisan terdepan
Menyusul sesuai barisan terbelakang

Banjir darah merah jantung
Membungkus sejuta keraguan
Maju terus lagi!
Tak perduli duri tapak kaki
Tak urus sakit terkapar jatuh
Yang ada hanyalah keberadaan
MERDEKA
Diri sendiri yang beruntung

Bima,2000

1.      Pengantar
Puisi “api semangat” diambil dari kumpulan puisi nyanyian trotoar, puisi tersebut diciptakan oleh Elkacen Haryobi, beliau kelahiran Maumere 13 JUni 1956, beliau menulis puisi sejak tahun 1976 dan mempublikasikan di media masa di Jogja, beliau pernah memipin teater celana di Jogja pada tahun 1978-1980.
2.      Paraprase
Si Aku mengungkapkan apa yang telah menjadi pikirannya bahwa seseorang yang berjasa atas diri rakyat( pahlawan) mereka berjuang dengan sungguh-sunguh walaupun mereka dalam keadaan lemah dan tidak berdaya namun mereka tetap berjuang untuk menggapai sebuah harapan yang begitu dalam dengan pengorbanan dan perjungannya untuk meraih sesuatu yang sudah lama diinginkan dan diimpikan perjuangan mereka begitu menggarukan, mereka berikan kepada rakyat dengan sepenuh hati dengan menjadi orang pertama dalam setiap perjuangannya yang panjang dan berliku hingga menimbulkan perasaan sakit yang dalam dan berkepanjangan namun hal tersebut menimbulkan kenikmatan baginya.
Indonesia telah tercipta oleh nyali-nyali suci dan tulus yang diperjuangkan oleh pahlawan hingga terdengar jauh kesemua penjuru (Negara-negara lain) hingga menjadikan indonesiadalam sebuah mimpi dan sampai pada jajaran tertinggi.
Dengan pengorbanan yang telah pahlawan lakukan si aku merasa tergetar hatinya dan si Akupun mencoba mencari apa sebenarnya arti dari bentuk kehidupan hingga si Aku menemukan sebagian kecil dari rakyat Indonesia terdapat seseorang yang begitu menghormati dan begitu bersukur atas perjuangan para pahlawan dengan menyanyikan nyanyian lagu daya juang yang mereka persembahkan untuk para pahlawan, namun mereka hanya dapat bicara saja tampa melakukan tindakan, dan si Aku pun berseru bicaralah sesuatu yang perlu meskipun beberapa baris dapat menjadikannya sebagai daya dalam setiap katanya, bicaralah apa saja namun jangan berlebihan untuk menutupi ketidakbenaran karena hal tersebut hanya akan menciptakan hal yang buruk cepatlah beranjak dari sifat angkuh karena dengan itu kita dapat bersatu karena kalau tidak kita akan musnah begitu saja.
Berdirilah dan berjuang menjadi orang pertama dengan teratur hingga menciptakan kenyamanan, keselarasan, kedamaian  dan ketertiban.
Kita berdiri disini karena pengorbanan para pahlawan namun mengapa kita masih saja tetap meragukannya, ayo lita maju terus untuk memperjuangkan kemerdekaan Negara kata yang telah para pahlawan wariskan kepada kita, jangan perdulikan apa yang kita berikan dan apa yang kita pargunakan untuk memperjuangkannya. Jangan perduli sakit atau hancur karenanya karena jika kita merdeka yang beruntung tetaplah kita sendiri.
3.      Analisis Semiotik
Dalam puisi ini terdapat penanda dan petanda judul itu sendiri yaitu “Api Semangat” judul tersebut menandakan apa yang menjadi isi dari puisi itu sendiri dan tanda (!) merupakan bentuk seruan si Aku selain itu juga terdapat ikon, indeks, dan symbol. Ikon merupakan sistem tanda yang berhubungan antara pananda dan petandanya bersifat persamaan bentuk alamiah, dalam puisi ini sendiri dapat dijumpai ikon-ikon seperti “jiwa” merupakan sesuatu yang ada dalam diri manusia yang menciptakan asa dan karsa pada diri manusia, “nanah luka” merupakan sesuatu yang sakit, “mimpi” merupakan sebuah media pengharapan, “langgit” sesuatu yang sangat tinggi namun dalam puisiini dapat berarti sebagai sebuah pencapaian tertinggi, “barisan” berarti keteraturan dan “telapak kaki” merupakan bagian dari struktur tubuh namun dalam puisi ini berarti sebuah tumpuan tanggung jawab. Indeks merupakansistem tanda yang menunjuk adanya hubungan alamiah antara pananda dan petanda yang bersifat kausal atau hubungan sebab akibat dan dalam puisi ini dapat kita jumpai pada Langkah tertatih-tatih meniti harapan hingga menciptakan Keringat jiwa membasahi bara rindu, karena Meraung jauhkepenjuru hingga menimbulkan Tergetar hatiku, OA  suara kerbau yang dicocor hidungnya Karena belang, kalau MERDEKADiri sendiri yang beruntung.simbol merupakan sistem tanda yang tidak menunjukan hubungan alamiah antara pananda dan petandanya, melainkan hubungan yang bersifat arbiter atau semau-maunya, hubungannya berdasarkan kovensi (perjanjian) masyarakat. Dalam puisi ini simbol terdapat pada “telapak kaki” sebagai simbol pencapaian, jejak sebagai symbol dari sebuah pencapaian, “lagu” sebagai simbol penghargaan, dan “kehidupan” sebagai simbol keberadaan seseorang.
4.      Kovensi bahasa
            Kovensi bahasa dalam puisi ini dapat kita jumpai bahasa baku dan non baku , bahasa baku meliputi yang berdiri, indonesiaku, mencari arti, disudut ruang,atau jejak, atur barisan terdepan dan sisanya dalam puisi ini merupakan bahasa non baku.
Kovensi bahasa sastra dapat kita jumpai gaya bahasa, citraan dan diksi
Gaya bahasa dalam puisi ini dapat dijumpai gaya bahasa pras prototo,paradok dan personifikasi sepertipada:
Langkah tertatih-tatih meniti harapan merupakan gaya bahasa pars prototo, kalimat tersebut dapat mengambarkan arti dari keseluruhan puisi.
Jerit tanggis pahlawan rakyat, Tergetar hatiku, omong saja apa yang perlu, Buka selimutmu yang angkuh bersatu ataukah musnah, Maju terus lagi!, dan MERDEKA merupakan gaya bahasa paradok krena pengalan-pengalan puisi tersebut memberikan penekanan dan berfungsi sebagai nilai ekstetika.
Nyali suci indonesiaku Meraung jauh kepenjuru merupakan gaya bahasa personifikasi berfungsi untuk pengimajinasian
            Citraan yang ada pada puisi ini seperti  Langkah tertatih-tatih meniti harapan merupakn citraan gerak, citraan penggalan puisi tersebut berfungsi sebagai penambah keindahan puisi,  Jerit tanggis pahlawan rakyat, Meraung jauh kepenjuru, Membahana irama  lagu daya juang, OA  suara kerbau yang dicocor hidungnya, merupakan citraan pendengaran dalam penggalan-pengalan tersebut pengarang mengajak pembaca untuk berimajinasi lewat pendengaran. Menyusul sesuai barisan terbelakang, Membungkus sejuta keraguan, Maju terus lagi! Merupakan citraan gerak, citraan tersebut berfungsi sebagai media perubahan, Rapikan barisan terdepan merupakan citraan perubahan.
            Dalam puisi ini terdapat beberapa pilihan kata yang digunakan pengarang seperti  Langkah tertatih-tatih meniti harapan pemilihan kata tersebut berfungsi sebagai pesan yang disampaikan pengarang kepada pembaca bahwa perjuangan sangat sulit, Nyali suci indonesiaku pemilihan kata tersebut berfungsi sebagai penyampaian pesan kepada pembaca untuk mudah memahami makna sebenarnyadalam puisi dan MERDEKA Diri sendiri yang beruntung pemilihan kata tersebut berfungsi sebagai seruan pengarang terhadap para pembaca.
            Amanat dalam puisi ini yaitu hargailah para pahlawan, karena jasa beliau begitu luar biasa dan sepatutnya kita tetap menjga warisannya.
Kovensi budaya dalam puisi ini yaitu latar belakang sejarah Indonesia adalah jasa pengorbanan para pahlawan, dan tampa mereka Indonesia masih dalam keadaan dijajah.
5.      Penutup
Demikianlah analisis dikotomi dalam puisi “api semangat” puisi tersebut sangatlah indah dengan pemilihan kata yang tepat menambah keindahan puisi dengan dilatarbelakangi sejarah seolah-olah pengarang ingin menularkan semangat nasionalnya.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar